Rabu, 11 Januari 2012

LOVE ASSET


781

Alhamdulillah, terbit juga novel pertama saya, walaupun dikerjainnya keroyokan bersama teman-teman tercinta saya dalam Women Script and Co. Banyak cerita, suka dan duka dalam pembuatan novel ini. Tapi yang pasti yang membuat saya salut adalah para wanita yang ikut dalam project novel ini amat sangat toleransi dan saling menghargai. Bayangkan, pikirkan, 16 kepala dalam satu novel. Alhamdulillah bisa diselesaikan dalam waktu satu setengah bulan. Luar biasa sekali dengan kerja keras para ibu-ibu ini.
Oke, saya ceritakan asal mula kenapa kita mencetuskan ide untuk membuat novel bersama. Well, awalnya kita tergabung dalam IIDN, Ibu-ibu Doyan Nulis DKI jakarta, yang ingin melakukan kopdar. Tapi kita tidak mau hanya sekedar kopdar, ikut grup, tapi tidak memberi manfaat sama sekali. Maka dengan tekad bulat, kami semua ber-16 orang ditambah satu orang manajer, berkomitmen untuk membuat proyek ini sampai selesai. Jadilah terbentuk Women Script and Co. Alhamdulillah sekali lagi.
Oke, sekarang membahas novelnya. Kenapa berjudul Love Asset? well..., kebetulan saja, judul ini tercetus atas ide saya. Sebenarnya sebelum judul tercetus, sinopsis dan garis besar cerita sudah terbentuk, serta nama-nama tokoh. Oleh karena itu, saat itu yang ada dipikiran saya adalah materi, dimana berdasarkan sinopsis, cinta selalu dilihat oleh materi, ada apartemen, mobil mewah, berlian. tapi kalau saya kasih judul material girl, kayak judul lagunya Madonna dong :D oleh karena itu saya ganti dengan Asset. Dan berhubung novel ini bergenre Roman, pasti ada kata cinta. Cinta Aset. kesannya matre banget. oleh karena itu saya menggunakan kata Love, maka jadilah Love Asset, mencintai asset, atau asset cinta.
Kenapa juga kita menulis tema ini? Pesan apa yang ingin disampaikan?
Memang terdengarnya agak dangkal, seorang wanita cantik yang menjadi istri siri seorang pengusaha, memakai jalan pintas. well..., suka tidak suka fenomena itulah yang terjadi di jaman sekarang ini. Tidak sedikit seorang wanita yang walaupun berpenghasilan ternyata menjadi simpanan seorang lelaki yang sudah beristri dan mempunyai anak. Pesan yang ingin kami sampaikan adalah apakah hanya sebatas materi cinta sejati itu? Bisakah kebahagiaan itu diraih dengan materi? Padahal ada banyak pihak yang bisa kau lukai jika kau melakukan hal itu.
Untuk lebih jelasnya, saya akan memberikan sedikit resensi isi novel ini.

Ratu merupakan dara jelita berasal dari kota Solo, sulung dari tiga bersaudara. Dia pun merantau ke Jakarta untuk meneruskan kuliahnya di salah satu Universitas negeri di Jakarta. Namun disebabkan karena himpitan ekonomi dan juga masalah yang datang bertubi-tubi, mau tidak mau dia pun rela mengorbankan jati dirinya dengan menjadi istri simpanan seorang pengusaha properti, Pak Chandra.
Dilema dimulai manakala Ratu bertemu dengan seorang pemuda bernama Adam. Berbagai momen pun terjadi yang membuat mereka menjadi dekat dan saling jatuh cinta. Padahal saat ini Ratu sudah menjadi istri seseorang.
Masalah bertambah rumit manakala Adam bermaksud melamar Ratu dengan cara yang sangat romantis yaitu dengan helikopter. Namun naas, helikopter mengalami kecelakaan. Adam lumpuh.
Dan dari kejadian inilah diketahui kalau Adam merupakan putra dari Pak Chandra, yang notabene merupkan suaminya.
Apa yang harus dilakukan Ratu?
Mampukah Ratu menggapai cintanya?
Cinta memang penuh pengorbanan. Padahal Ratu hanya ingin mencintai dengan sederhana.

Penasaran? Sudah bisa dipesan kok bukunya. Hubungi aja para penulisnya. salah satunya saya, Ninna Rosmina.
Buku ini ditulis oleh kami, para wanita, dengan berbagai latar belakang profesi, untuk para wanita. Semoga buku ini bisa bermanfaat dan memberikan inspirasi untuk kita semua. Amin.
Selamat membaca :)

Senin, 12 Desember 2011

1st Flight Kuala Lumpur Part 3

781
Oke, pertama-pertama, biar aku ceritakan dulu waktu perbedaan waktu antara jakarta dan Kuala Lumpur. Misal di jakarta pukul sepuluh, maka di Kuala lumpur pukul sebelas. So, beda berapa jam kah? benar sekali! Hanya beda satu jam. Dan mungkin, karena perbedaan itu pula yang menyebabkan waktu sholat di Kuala Lumpur ini molor.
Sebagai contoh, pada saat aku sampai di Hotel sekitar pukul satu, aku pikir sudah lohor, so tanpa menunda-nunda, aku pun langsung ambil air wudhu dan sholat Lohor plus ashar di jamak. Setelah itu merasa tenang dong!? Tapi kenyataannya, pada saat aku sedang asyik-asyiknya nonton TV melepas lelah sambil tidur-tiduran di kasur, azan itu pun berkumandang........
Hening.....
Kejadian serupa adalah pada saat Shubuh hari pertama. Berhubung malamnya aku tidak keluar lagi dan hanya tinggal di kamar hotel, jadi pukul sembilan malam, aku sudah berangkat ke pulau kapuk tanpa mimpi. Dan terbangun pada pukul setengah lima. Biar segar, aku pun langsung mandi, dan pukul lima aku sudah sholat shubuh.
Dan pada kenyataannya, setengah jam kemudian, aku baru mendengar kumandang azan shubuh.....
Hening lagi....
Ya begitulah... jadi kalau ke Kuala Lumpur, harap tidak perlu terburu-buru untuk mengambil air wudhu, hendaknya tanyakan terlebih dahulu kepada warga sekitar.
Oke.
Berhubung aku ada janji tur pukul sembilan, maka pukul setengah delapan, aku pun turun untuk keluar melihat-lihat keadaan sekitar. Ingin lihat bagaimana situasi dan kondisi malaysia di pagi hari dengan rutinitas kerja yang sibuk.
Lumayan ramai, tapi kalau dipikir-pikir.... tidak ada yang seramai Jakarta. Berhubung aku sudah makan roti di dalam hotel, aku nggak nyari sarapan lagi. Setelah puas lihat-lihat dan takut jemputan tur lewat, maka aku pun menunggu di lobby hotel.
Oiya, satu lagi yang harus diceritakan, walaupun judulnya hotel bintang tiga dengan kamar kecil dan seadanya, tapi fasilitas internet alias wifi di hotel ini sangat cepat. Otomatis, BB yang aku bawa pun masih bisa berfungsi. Jadi selama di lobby, aku nyeting wifi dan bisa BBMan dengan kakak-kakak ipar di Jakarta. Sooo.... berasa tenang lagi deh. Setidaknya kalau aku ketinggalan sesuatu bisa nitip-nitip orang Jakarta. (kesannya mau dikirimin aja).
Jemputan pun datang tepat waktu. Tepat pukul setengah sembilan, aku dijemput oleh seorang pria india, sudah tua, bernama.... Mr. Sings... Mr. Sing.... Mr. Shink... Yah terserah deh tulisannya bagaimana. Maka aku pun naik sebuah mobil macam... travelo atau mobil-mobil yang suka dipakai oleh travel Cipaganti. Ternyata aku tidak sendirian. Teman tur kali ini adalah sepasang suami istri yang sangat humble berasal dri Scotlandia, Ivan dan Betty. Mereka merupakan pensiunan dan sedang menikmati masa liburan mereka yang panjang. Mereka bilang setelah dari malaysia mereka akan ke New Zealand ke rumah anak mereka dan akan tinggal di sana selama dua atau tiga bulan. (Enaknyaaaa....)
Awal tur, kami di ajak melihat lapangan merdeka. Dan aku lupa ceritanya.
Bisa dilihat di foto kok




Kami berada di lapangan ini paling hanya sepuluh menit, setelah itu kami berangkat lagi menuju Istana Negara. Tapi sayangnya berhubung istananya sedang direnov dan juga katanya dipindah ke tempat yang lain menjadi lebih bagus dan mewah, kami tidak bisa masuk untuk lihat-lihat ke dalam, cukup sampai di pintu gerbangnya saja. *sigh... menyedihkan.

Setelah itu, kami diajak berkeliling menyusuri Lake Garden. Dimana di Lake Garden ini terdapat Butterfly Park, Bird Park, Orchid Garden, Deer Park, Islamic Arts Museum, National Planetarium, Islamic Centre, Dan National Mosque. Sayangnya kami hanya numpang lewat dan tidak turun dari mobil. T_T Memang bukan paketnya.
Setelah berkeliling, kami diturunkan di depan National Museum.
Mengenai Nasional Museum, bangunannya didesain dengan memakai arsitektur Thailand. Tapi ternyata untuk gaya atapnya memakai gaya Minagkabau. Karena ternyata, Raja Selangor memiliki ibu/bapak (lupa), berasal dari MInangkabau. Bweeh... emang bener serumpun...


Untuk Museum, salut buat mereka. Museumnya bagus sekali, bersih dan semuanya masih berfungsi dengan baik :p
Setelah dari Museum, kami pun dibawa ke memorial Tun Razak. Disana berdiri Tugu Pahlawan, dan tertulis nama-nama Pahlawan yang ikut berperang membela kemerdekaan. Ada orang India, China dan Melayu. Di sana juga terpampang lambang-lambang dari keseluruhan kesultanan yang ada di Malaysia.

Keluar dari sana kami berjalan menyusuri lereng yang disusun dengan sangat apik dan tentu saja bersih. Melewati taman dimana terletak lambang-lambang negar Asean. Indonesia pun ada lambangnya. Tapi yang buat aku trenyuh..., Mr. Sink bilang kalau petugas kebersihan disana, tidak ada yang warga Malaysia asli, semuanya pendatang dari negara ketiga. Bisa ditebak dong... kalau salah satunya adalah Indonesia. Jadi agak sedih. Tapi mau bagaimana lagi?
Selesai dari sana, kami dibawa ke Royal Selangor, pabrik kerajinan Timah yang luar biasanya.... cantik-cantik sekali hasilnya. sayangnya foto disini tidak ada yang bagus.
Setelah dari Royal Selangor, kami dibawa ke Petronas, menara kembar yang terkenal seantero dunia. Ternyata tower ini dibangun oleh kontraktor yang berbeda, satu oleg Jepang dan satu lagi oleh.... Korea? (Lupa! Yah, maklumlah bukan orang Malaysia juga kan? Lagian ngapain diapalin? kan ga bakalan ditanyain inih).

Ngomong-ngomong padat juga ya tur pagi ini. Dan semuanya ini sudah selesai hanya dalam waktu tiga jam. Gada yang namanya macet.
Mr. Shink pun nawarin ke aku, mau di drop aja ke hotel, apa stay di KLCC (Mall di Petronas) dan window shopping? Tentu saja aku jawab, window Shopping. Maka dengan berbaik hati. Mr, Sing pun menjelaskan Kereta atau tren yang harus aku naiki dan turun di stesyen mana. Aku pun berpisah dengan pasangan suami istri yang sangat ramah tersebut. Tapi sebelum keliling-keliling, tidak ada salahnya aku makan dulu. Atas dasar rekomendasi Mr. Sink, aku makan di Nasi Kandar Pelita yang terletak tak jauh dari KLCC. Jadi... Nasi Kandar ini semacam nasi padang, dengan bumbu kari yang kental. Enaaaakkkk... tapi agak pedas. Dan juga murah. Makan dengan sayur dan ayam goreng juga minum, aku hanya habis RM 7,2. Kenyang pula. Alhamdulillah. jadi ngiler deh kalo inget.
Setelah kenyang, aku pun masuk dan ngider-ngider di KLCC. Awalnya aku pikir aku bisa menikmati, tapi pada kenyataannya, sama sekali tidak. Setelah beberapa saat ngider... BOSEEEENNNN... mana harganya kalo dirupiahin sama aja mahal-mahal. Akhirnya jam tiga setelah sholat lohor, aku memutuskan untuk pulang memakai tren seperti yang dibilang oleh Mr. Shings.
Untuk masalah transportasi, terus terang aku iri sama Malaysia. Aku naik kereta bawah tanah, which is... dimana aku belum pernah naik, sehingga membuat sisi norak dan lebayku muncul... ITU KEREEN SEKALII... Huhuhuhuhu....Dan aku hanya perlu naik kereta melewati dua stesyen... deket banget doong??? Well... hari ini luar biasa dan aku senang, walaupun sepi.
Malamnya.... tidak seperti malam kemaren, aku memutuskan untuk keluar dan melihat situasi sekitar kalau malam hari. Cukup ramai, tapi teteup... tidak seramai Jakarta. Pukul sembilan, mereka sudah banyak yang tutup. dan tentu saja aku belanja lagi di Tip top, eh... Mydin. Yeah *bersorak.

Minggu, 11 Desember 2011

1st Flight Kuala Lumpur part 2

781
Oke. Pertama-tama, aku akan menceritakan soal kondisi hotel ini. Well, berhubung aku booking dari internet, aku hanya melihat dan membaca dari testimoni yang tertulis. Jadi hotel ini terletak di daerah masjid India, which is sangaaaatttt padat! Masjid ini terletak di belakang Bazar, seperti pasar gitu, hanya saja menjual pakaian dan aksesoris, juga tas. Lumayan menyenangkan dan ramai. Bahkan kesan awal yang aku dapat begitu pertama melihat tempat itu mirip pasar baru. Nama hotel itu Citin MAsjid Jamek. HOtelnya kalau di Jakarta seperti Hotel butik F1 yang ada di Menteng dan CIkini. Kamarnya kecil, hanya seukuran 2x4 meter sepertinya. Bagi yang pernah menginap di hotel F1, pasti tahu deh!
Begitu selesai check in, aku diantar oleh porter yang berbeda dengan yang bawain koper aku. Kalau yang ini sebenarnya manis, tapi brewokan dan memakai sorban ala india. Dia bertanya aku dari mana, aku bilang dari Jakarta, Indonesia. Kalau nggak salah dia sempet ngira aku dari vietnam atau thailand deh! Mungkin karena agak sipit kali ya :D Dia bilang, dia baru saja bekerja di Malaysia, langsung dari India, namanya lupa siapa (ngapain juga diinget-inget). Dan yang anehnya, begitu selesai nganterin, dengan pede dan polos entah tidak tahu malu atau mungkin semua turis tidak ada yang menolaknya sebelumnya, dia meminta kenang-kenangan uang indonesia. Aku kasih aja seribu rupiah (hehehhe) untung masih punya recehan. BUat tip aku kasih RM10, entah kemahalan atau tidak, bodo amat deh!
Begitu masuk, aku nangis.... sediiihhhh.... sendirian.... kalaupun keluar negeri, maunya kan sama suami... sekalian honey moon gituuu.... huhuhuhuhu...
Setelah puas istirahat, capek nangis, bosen dan laper, aku memutuskan untuk pergi keluar, saatnya cari telpon umum buat nelpon tour and travel yang aku booking. Secara pergi sendirian, pertama kali pulak, buta soal malaysia, aku booking paket wisata kuala lumpur selama dua hari. Dan berhubung aku belum bisa onlen dan mau ngontak keluarga di Jakarta, aku pun keluar cari warnet. Jadilah aku muter-muter di sekitar masjid india. Mungkin sebutannya LIttle India. Tempat yang padaaattt.... dan kalau dibilang kumuh, tidak juga, masih bersih sih... dibandingin di Jakarta.
Awalnya aku takut, soalnya orang india semua, badannya gede-gede, item pula, serem, takut diapain gitu. Tapi emang dasar akunya yang ogah mikir panjang, tanpa malu or takut, aku nanya2 ke orang yang lewat di mana public phone. Mereka semua pada bingung. Akhirnya aku tanya public internet, dan akhirnya aku bisa kontak sama orang jakarta juga. Alhamdulillah. berasa seperti hidup dengan tenang kembali karena bisa kontak dengan orang yang kita kenal.
Selesai ngasih khabar, aku tanya-tanya ke cewek india yang jaga warnet dimana public phone, soalnya aku perlu konfirm ke wisata aku kalau aku sudah sampai. Dia malah balik tanya, apakah aku punya mobile phone?
Ya punya laaaaahhhh..., dikiranya orang gunung ga punya apa? eh dia malah tanya provider aku apa. Aku jawab aja My MAxis, karena memang itu yang terjadi, telkomsel disana berubah jadi My Maxis, sehingga aku masih bisa terima sms dan telepon dari Jakarta. Untuk sms okelah, hanya 5000, walaupun pada kenyataannya aku hanya ngisi 25000 di jakarta sehingga hanya bisa 5 kali sms :p. tapi kalo untuk terima telpon, ogah.... roaming bok!
Setelah aku jawab, dia malah nawarin aku pulsa my Maxis RM10. My God, nih cewek ga sabaran amat yak, aku padahal belum jawab banyak loh. Tapi akhirnya aku beli dan aku coba isi. Tapi ga bisa. Akhirnya aku minta refund ke cewek itu dengan perasaan takut diomelin. Tapi pada kenyataannya, sama dia dibalikin. AKu jadi mikir, eh... tampang si boleh judes tepi baek juga, dia ga curangin aku dengan bilang kalau vouchernya sudah di buka. Tapi tanpa ngomong apa=apa, dia balikin aja tuh uang. Alhamdulillah.
Akhirnya aku tanya lagi public phone, kali ini dia jawab dengan benar. Aku harus cari MyDin. Dalam hati... apa lagi nih MyDin. Dia sih nanya aku tahu MyDin apa ga, dan sotoynya aku, aku nya ngangguk-ngangguk dan bilang, "yeah I know.., oke,... oke..." biar ga dikira bego gitu :D
Setelah tanya... yang ketangkep dalam otak cuma nama MyDin aja. dan ga ketemu.... mau tidak mau, nanya lagi deh dimana public phone dan MyDin. Eh... pas aku nanya MyDin, pada tau tuh.
Jadi ternyata MyDin itu supermarket... mirip tiptop gitulah. Murah, Tapi masih gedean TipTop dimana-mana sih! Tapi di Mydin ini, aku sering bolak balik jajan. wkekekekek... serasa dapet penolong gitu, ketemu supermarket.
Public phone juga ada di sana, tapi aku ga bisa nelponnya. bingung sama nomer telponnya. ga nyambung-nyambung. Ih... bego banget sih! Ya sudahlah, daripada bingung, nanti minta orang hotel aja yang nelponin. Sekarang saatnya belanja.
Jadilah aku belanja untuk pertama kalinya di negeri orang, di supermarket, belanja body lotion, semprotan ruangan, air putih, apa lagi ya? pokoknya abis... sekitar 20 ringgit deh. lupa. Setelah belanja, aku cari makan. Sebenarnya agak takut, makan sendirian... takut kenapa-napa gitu. tapi dengan diberanikan, demi perut lapar, setelah ngiderin tempat makannya dua kali, aku mutusin untuk beli di salah satu stand. Dan murah. Kurang dari sepuluh ringgit... kalo ga salah cuma 4 atau 5 ringgit tapi aku uda makan ayam. lumayan laaahhh... alhamdulillah perut kenyang soalnya nasinya ampun-ampunan.
setelah makan dan puas liat-liat sekitar aku balik pukul 4 sore ke hotel dan tidak keluar-keluar lagi sampai besok paginya. Hari pertama gitu... masih males, sendirian pula... (ngeluh aja ya daritadi)
video

1st Flight Kuala Lumpur part I

781
Hmmm... mulai cerita dari mana ya... mungkin dari masa aku kecil kali ya. Aku berasal dari keluarga yang berkecukupan. Berkecukupan sehingga bisa membesarkan aku dengan sehat dan pintar dan menyekolahkan aku sampai dengan lulus bangku S1.
Sejak kecil, aku suka sekali jalan-jalan. Aku memang tahu kalau dalam darah keluarga aku mengalir darah perantau, dan aku menanggapinya biasa aja, sampai aku mengalaminya sendiri. Well, ini mungkin bukan merantau, tapi melancong, tapi setidaknya, karena memiliki darah inilah aku bisa menikmati jalan-jalan untuk yang pertama kalinya ke luar negeri, dan sendirian pula, tanpa tahu medan sama sekali.
Jadi ceritanya begini, aku merupakan seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki kesibukan lain selain mengurus rumah dan suami (anak belum punya). Kalau semuanya sudah selesai, otomatis waktu luang. Dalam waktu luang itulah aku sering browsing-browsing internet, dan iseng-iseng aku browsing AirAsiaGo. Dari hasil browsing itulah aku mendapatkan paket murah Flight + HOtel to Kuala Lumpur, Malaysia from 23 NOvember 2011 to 27 NOvember 2011 hanya dengan harga 2,8 juta rupiah. Murah banget khaaannn???
AKu pun iseng-iseng memaasukkan nomor kartu kredit. Tapi berhubung saat itu aku sedang sibuk sambil ngeprint, jadi lappi sering aku tinggal. Dan yang aku pikirkan saat itu, berhubung aku tidak mengklik tombol konfirm untuk terakhir kalinya, aku yakin aja kalo aku TIDAK JADI Booking. Begonya juga sih, aku make nama suami sebagai travel lead. sehingga email konfirmasi akan dikirim ke email suami.
Soooo.... jadilah selama sebulan lebih gue yang lupa dan anteng-anteng aja tidak merasa kalau gue telah melakukan sebuah booking perjalanan. Sampai akhirnya tagihanpun tiba, dan suami nanya ini transaksi apa, karena dia tidak merasa melakukan transaksi itu. Akhirnya setelah aku ingat-ingat, aku punya feeling ga enak. Akhirnya aku telpon ke AirAsia yang ternyata berbeda dengan AirAsiaGo. Akhirnyaaa.... aku minta suami buat buka emailnya, kalau-kalau email konfirmasi itu ada. Dan ternyataaaaa... beneran adaaaa!!
JREEENG!!
Mampus! Mana suami baru selesai event sehingga masih sibuk urus-urus laporan dan penagihan dan tidak bisa ditinggalkan. Aku nangis-nangis selama dua hari, karena tidak tahu harus bagaimana. karena setelah dicari-cari info, ternyata tidak bisa ganti nama dan diundur. HUehuehuehuehue... kenapa sih ko sedemikian repotnya? Masalahnya aku sama sekali belum pernah ke luar negeri, jadi yang ada di pikiran itu takuuuttt. Akhirnya diputuskanlah aku yang pergi sendirian ke sana.
Suami juga khawatir, dia yang nge-breef aku duluan, apa yang harus aku lakukan. nanti kalau sudah sampai harus bagaimana. langsung tukar uang. nanti di bandara bagaimana. dst dst....
Dan sebenarnya aku itu tipe yang tidak bisa dijelaskan hanya melalui kata-kata, harus praktek. Jadi beginilah yang terjadi.

Hari H, Rabu, 23 NOvember 2011
Sebelum Shubuh, aku udah bangun, udah mandi dan udah siap semua bawaan. Hanya satu tas tangan dan tas travel. Pukul lima, aku, suami dan ayah berangkat ke bandara. Pukul enam sampai dan langsung menuju terminal 3, Air Asia. Ketika mau masuk, aku dan suami pisah. Aku masuk lewat ruangan dimana orang-orang pada check ini dan drop bag. Sedangkan aku udah di Check in sama suami online, sekaligus pulangnya, jadi aku tidak perlu repot-repot lagi. Baru masuk ruangan aja, aku uda celingak-celinguk kayak anak ilang bingung mau kemana lagi. Dan akhirnya aku melihat suami melambai-lambai sambil lompat-lompat di balik kaca di ruangan sebelah. Aku pun dipanggil ke sana. Dengan lega aku langsung berlari (bener-bener mirip anak ilang yang ketemu lagi sama bapaknya deh). Suami pun nganterin aku ke atas untuk ke ruang tunggu, namun sebelumnya harus check lagi, dan bayar airport tax. Tapi sayangnya dan SEDIHnya hanya sampai disana suami nganterin. Dengan nangis-nangis dan meluk suami seolah minta dia agar ikut pergi, aku pun berjalan ke tempat pengecekan. Dan semuanya lancar. Aku harus sudah boarding, dan sampai disanalah aku melihat wajah suamiku untuk terakhir kalinya pagi itu.
Di pesawat aku tegang sekali, dan nangis....
BIasanya orang kalau mau liburan apalagi ke luar negeri kan girangnya bukan main ya... tapi aku malah sedih. Tapi dengan tekad tidak mau rugi, aku pun terus berangkat.
Dua jam kemudian, tepatnya pukul sepuluh, aku pun tiba di KLIA. Begitu turun, aku bingung harus pergi kemana, tapi beruntung banyak orang Indonesia yang juga sedang pergi berlibur ke sana. Tapi satu yang aku ingat banget, cari MOney Changer, maka aku pun langsung nukar duit pada money changer pertama yang aku liat! Tahap 1 oke, aku sudah megang duit.
Setelah itu aku ngekor aja kemana orang-orang berjalan. yaitu untuk cek melewati bagian imigrasi. Mengingat cerita suamin kalau di Malaysia sangat ketat, well... pada kenyataannya saat itu, aku hanya melewati satu pengecekan, dan cepat sekali, setelah itu langsung keluar. tahap 2 oke.
Mengingat pesan suami, aku cari taksi untuk menuju hotel di KL. Kata suami, taksi paling hanya RM20. Maka aku pun bertanya dengan bahasa inggris (semampunya) ke loket taksi. Orang india kebanyakan yang bekerja. Dan Mba (aku ga tahu sebutannya di Malaysia apa) itu pun menjawab "seventyfour." OOo... no no no... walupun duitku masih banyak, tapi kalau ternyata dari cerita suami meleset jauh, mendingat aku cari alternatif kendaraan yang lain. dan aku pun bergeser ke loket yang lain, loket bus. dan ternyata hanya dengan sekali jalan diantar sampai depan hotel, hanya RM18. Ya mendingan naik bis laaahhh....! Tahap 3, oke.
Tapi sebelum aku menuju bis, tidak ada salahnya aku makan dulu. Lapeeerrr.... maka aku pun berjalan mengikuti kemana kaki melangkah, dan ternyata otak aku bekerja. sebelum berangkat terus terang aku browsing=browsing internet dan melihat denah KLIA. denah itu pun berputar ulang di otak. di KLIA ada MC D. Maka aku pun mencari MC.D dan dapat. MC.D di sini tidak ada ayam, hanya burger. jadilah aku makan sendirian. Ketika makan, membayangkan jalan berdua dengan suami, makan MC.D... rasanya akan lebih menyenangkan. Sedih... tapi aku tidak nangis sih. Soalnya lebih mikirin gimana caranya buat segera sampai di hotel.
Selesai makan, aku pun mencari tempat bis di parkir, tentu saja dengan nanya-nanya. Untungnya alhamdulillah, aku pergi ke malaysia, bahasa masih sama, walaupun beda, bisa pakai bahasa inggris seadanya dan mereka tetap mengerti.
Lokasi bis pun bisa ketemu, naiklah aku ke dalam bisa dan duduk dengan tenang selama satu jam ke depan. Karena ternyata jauuuuhhh juga yaaa... Tapi hebatnya, NO TRAFFIC JAM! Luar biasa.
Begitu sampai di KL, aku transit dan naik ke mobil kecil. Nah dengan mobil kecil itulah aku didrop sampai depan hotel. Sebenarnya tidak sampai depannya juga sih, karena ternyata hotelnya nyempil di belakang tenda-tenda bazar, sehingga aku harus berjalan kaki.
AKhirnya hotel pun ketemu, dan aku langsung di sambut oleeeehh... apa tuh namanya yang nunggu di depan pintu hotel? laki-laki, orang india, badannya gede, ganteng. Kalau di Indonesia pasti uda jadi model atau artis sinetron. Sayangnya tidak ada yang memberitahukan hal itu padanya. Mungkin bukan jalanmu BUng! Tinggal sajalah di KL, jakarta sudah penuh. HUsh hush!
Check in hotel pun berjalan lancar. Alhamdulillah....

Sabtu, 15 Oktober 2011

Palembang adventure

781
Tahun ini merupakan Ramadhan pertama gue sama suami, dan gue menjalankan awalnya di muara enim.

Awal Ramadhan diMuara Enim sih berlangsung dengan lancar dan biasa aja. Yang luar biasa adalah ketika kami berdua mengunjungi Palembang mulai Jum'at kemaren, 5 Agustus 2011.

Dari Muara Enim kami naik kereta api ekonomi dengan tiket seharga 13ribu menuju stasiun kertapati palembang. Perjalanan yang biasa aja, alhamdulillah kami dapat tempat duduk yang bagus. Begitu sampai kertapati, bertepatan dengan waktu berbuka. Dan tujuan utama kami adalah menuju Palembang Square, yang entah letaknya dimana, hanya suami yang tahu. Yang pasti kami 2 kali ganti angkot. Begitu sampai di PS, hal pertama yang kami lakukan adalah "makan". Berhubung suami sudah sebulan berada jauh dari yang namanya mall, hal pertama yang dia incer adalah fast food. Jadilah kami makan di KFC. Capek ga sih? Di jakarta juga ada kali. Tapi mungkin ini pertanda kalau dia sudah mencapai peradaban kembali. (Kesannya Muara Enim itu ndeso banget yo!)

Tanpa menunggu waktu lama, kami berdua pun mencari tempat untuk menginap. Dan akhirnya dapatlah kami, berkat koneksi suami yang sebelumnya pernah lama ngekost di palembang.

Tapi sayangnya kostannya jauuuuhhhh kemana-mana. Walhasil, keesokan harinya ketika kami mau sahur, terjadilah tragedi itu.

Gue sengaja menyetel jam ke angka 3.45 shubuh di hape. Dan berhubung hape gue jamnya kecepatan 10-15 menit, jadi sebenarnya itu masih pukul setengah empat pagi buta. Jadilah gue sama suami jalan kaki keluar buat nyari sesendok nasi. Gue tanya ke satpam tukang jualan nasi yang buka pas sahur. Tidak tahu dia. Mampus.... Mana jauh kemana-mana lagih.

Akhirnya kami berdua menguatkan diri untuk keluar jalan kaki menyusuri perumahan mewah tersebut dengan harapan ada rumah yang masih kekurangan duit sehingga mau berjualan nasi bungkus. Tapi sampai jauh, sampai gue dan suami digong-gongin anjing, tidak ada satupun warung nasi yang nampak.

"Yaudah, rotiboynya kita bagi 2 aja ya sayang." Ucap gue baik hati, "terus aku juga masih punya biskuit bourbon kok, ada coklat silverquen juga."

So... Akhirnya ketiga makanan itulah makanan sahur kami berdua.(Bukan bermaksud kayak lagu dangdut sepiring berdua)

Siangnya, setelah sholat dzuhur ashar dijamak, kami berangkat kembali menuju PS (lagi). Abby janjian sama temennya disana. Kami pun nanya-nanya ke satpam bagaimana rute menuju sana. Jadi beginilah petualangan kami.

Untuk bisa keluar dari komplek, kami harus naik becak. Dan becaknya sempiiittt...., cuma bayar 5ribu. Padahal lumayan jauh. Kemudian setelah sampai veteran, kami nyebrang naik bus km sekian, gue ga hapal nomornya, asal menclok aja ikutan abby.

Kemudian turun dicaritas. Tapi ternyata tetep aja gada kendaraan yang bisa sekali jalan. Alamaaaakkk... Susah nian kendaraan umum di palembang sini. Jadilah kami naik becak (lagi), dan turun tepat di depannya. (Alhamdulillah).

Walaupun hari itu capek, panas sampe item, haus karena puasa, pegel, tapi seruuu banget.

Kemudian gue sempet hilang di palembang, tepatnya di dekat-dekat Palembang Square. Hahahaha..., keterlaluan ya, udah kayak anak kecil aja sampe hilang gitu.

ceritanya begini....

Hari itu merupakan hari minggu, tanggal 7 Agustus, gue sama suami mau buka puasa setelah sejam ngiterin pasar buat nemuin toko yang menjual obat mata "otem". Dan yep! Gue sakit mata. Alamaaakkk... benar-benar nyusahin yak! Untung punya suaminya baek, mau nyariin, mau netesin ke mata gue, di toko itu juga, dan gue kelojotan karena suakiiittt banget di depan ayu-ayu yang jagain tokonya. Kalo diinget-inget, gue muka tembok banget yak. Mungkin karena gue pikir, "Ah, gue ga bakalan dua kali kesini lagi kok!"

Okeh, balik ke topik!

Tadinya gue mau diajak suami makan mie celor, tapi ternyata memang bukan rejeki. warungnya tutup sampe hari selasa. Yasudah, akhirnya gue dibawa deh ke tempat makan di luar Palembang Square. Gue di ajak makan martabak kari India.

Jadiii... martabak kari India ini pada prinsipnya sama dengan martabak biasa, hanya saja tidak ada daging dan daun bawang. Isinya murni hanya telor ayam dua butir. Yang bikin beda dan enak ya itu.... kuah karinya. Lumayan lah buat buka puasa.

Nah... selama puasa ini, gue lagi kena penyakit. mungkin istilah kedokterannya itu infeksi kandung kemih, alias punya hasrat ingin sekali kencing setelah kadar air dibadan gue abis, kalau bahasa gaulnya yah... anyang-anyangan.

Alhasil, setelah selesai makan dan minum, gue mau kencing dong. Berhubung gada toilet, jadilah gue harus ngacir ke dalam Palembang Square. Suami masih kekenyangan. Jadi kurang lebih begini dialognya.

"Sayang, mau ikut ke dalem apa mau nungguin aja disini?" kata gue.

"Aku disini aja nungguin kamu." jawabnya sambil maenin hape.

jadilah gue ngacir ke palembang square.

dan perlu dipahami denah palembang square yang aneh ini. Jadi ternyata ada dua pintu masuk. satu di lantai bawah, yang begitu tembus ke KFC. Satunya lagi naik ke atas yang tembus masuk langsung carefour.

Nah, berhubung gue orangnya ga sabaran, gue ga jalan lurus buat masuk melalui KFC, gue loncat pager deh! Yang menurut otak jenius gue jalur itu lebih cepat.

Dengan segala kekuatan yang ada, gue secepat mungkin menyelesaikan ritual kencing gue. Set set set! Selesai, langsung ngacir lagi ke luar ke tempat makan tadi.

Tapi begitu gue dateng, suami gada!!

Kaget dong gue! Mampus! Tega banget!

Tapi gue lihat masih ada motornya. Ya sudah, gue nungguin deh di motor!

Semenit, dua menit, lima menit, sepuluh menit. lima belas menit.

Gue tungguin suami ga dateng-dateng juga!

Dan seperti yang sudah kita ketahui, gue orangnya ga sabaran. kalo bisa gue udah ngamuk teriak-teriak sama bantingin barang kali. (Gue rada psyco emang!) Tapi berhubung di tempat umum, gue sabar-sabarin, sambil bengkok-bengkokin kaca spion, jatohin helm abby ke tanah dan sempet terlintas buat nendang itu helm sampe jauuuhhh.... tapi syukurlah! Kontrol diriku kuat sekuat baja!!!

Akhirnya gue memutuskan buat nyusul balik ke dalem mall. Dalam perjalanan ke mall pun gue masih marah. Semarah sampe menendang rambu segitiga di jalan sampe jatoh, diliatin sama abang-abang, mungkin dalam pikirannya, ini cewek jilbab preman juga yak! Gue tendangin troli yang nganggur di koridor-koridor depan, tapi berhubung berat dan besar, malah kaki gue yang kesakitan. Begitu sampe dalem, gue liatin dulu sekeliling, gada juga. Dan akhirnya gue balik lagi ke tempat makan tadi dengan ekspresi wajah yang sangar.

Begitu sampe, suami gue belon ada juga. saat itulah gue udah ga tahan.

Mungkin kalian pikir, kenapa ga nelpon ke hapenya aja sih?

Naaahhh..., itulah masalah terbesarnya. Tadi sewaktu mau berangkat ke toilet, yang gue bawa hanyalah selembar tisue. Tas beserta isinya gue tinggal sama suami.

Terus dengan nada tinggi, gue tanya lagi abang-abang yang jualan martabak. Jawabannya tetep sama, katanya suami gue nyusul ke dalem.

Gue memutuskan untuk nunggu lagi.

semenit, dua menit, lima menit.

Tadinya gue mau masuk lagi ke dalam. Ah, tapi capek! Akhirnya cuma gue susurin sampe pager tempat gue loncat. Terus balik lagi ke motor suami gue.

Ga tahan, gue tanyain lagi abang-abang penjual martabak. (Pokoknya kasian banget dah tuh abang-abang)

Jawabannya masih tetep sama.

Akhirnya gue memutuskan untuk nungguin di dalem. Dengan mata yang udah basah. Nangislah gua.

Dalam tangis itulah muncul khayalan-khayalan tingkat tinggi.

Ya Allah, ini Palembang. Diriku tidak kenal siapa-siapa. Kalau mau pulang, pulang kemana? yang tahu alamat kost cuma suami doang. Ga punya hape. Ga punya duit barang dua puluh lima perak (itu juga kalo masih laku). Mau kemana diriku? Diriku terlunta-lunta di kota asing ini. Jadi wanita cantik jalanan (kalo anak jalanan ga matching, gue kan udah merit kali). Oh nasiiibb... ya nasiiibbb....

Cukup jiwa lebay!

Pinjem henpon abang-abang martabak itu ajah!

Sip!

Maka setelah air mata dan ingus gue apus pake jilbab, gue bangkit dari kursi dan dengan ekspersi wajah dibuat semenderita mungkin, gue minjem hapenya dia.

Untung aja sih gue hapal nomor hape suami.

"Halo, sayang, kamu dimana?" ucap suami dengan nada jengkel diseberang.

"Dimana-dimana... aku ditempat makan yang tadilah. Kamu dimana?"

"Yaudah, jangan bergerak! Kamu disana aja, aku yang kesana sekarang! Jangan kemana-mana!"

KLIK!

Yaaaahhh.... begitulah drama hilangnya gue!

Kalo gue pikir-pikir lagi, gue drama queen juga ya.... padahal masalahnya simpel bukan?

Motor suami masih ada disana. Which is... dia bakalan balik kesana cepat atau lambat....

My... God!

Yang sabar ya suamiku *_*